Blog

Alasan Saudi Belum Umumkan Operasional Haji

041685800-1601976259-830-556

IHRAM.CO.ID, JAKARTA — Konsul Haji KJRI Jeddah Endang Jumali mengatakan baru mendapat informasi terkait alasan Saudi belum mengumumkan informasi resmi apa pun terkait haji.

Berdasarkan penjelasan yang disampaikan Plt Menteri Media/Penerangan Arab Saudi Majid bin Abdullah Al-Qashabi, mutasi virus Covid-19 dan kelangkaan vaksin menjadi salah satu alasannya.

“Mutasi virus covid-19, kelangkaan vaksin, dan perkembangan wabah Covid-19 menjadi alasan Saudi belum mengumumkan mekanisme penyelenggaraan haji tahun ini,” kata Endang dikutip di laman resmi Kemenag, Senin (7/6).

Plt Menteri Media disebut secara berkala memberikan penjelasan melalui konferensi pers terkait perkembangan Covid-19. Penjelasan tentang alasan belum umumkan teknis operasional haji disampaikan dalam konferensi pers, Ahad (6/6).

Endang mengatakan, penjelasan dari Saudi ini sekaligus mengonfirmasi pernyataan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas dalam jumpa pers 3 Juni lalu, bahwa sampai saat ini belum ada informasi resmi apa pun dari Saudi terkait operasional haji.

“Indonesia sudah memutuskan tidak memberangkatkan jemaah tahun ini. Keputusan itu diambil setelah proses persiapan dan diplomasi panjang. Faktanya, pandemi global masih belum terkendali dan Saudi juga tak kunjung beri informasi,” lanjutnya. 

Sumber : ihram.co.id

Pelaksanaan Umroh di Masjidil Haram Terapkan Protokol Ketat

jamaah-mengelilingi-kabah-bangunan-kubik-di-masjidil-haram-selama_210413214316-916

IHRAM.CO.ID, MAKKAH – Presidensi Umum Urusan Dua Masjid Suci mengatur keluar masuk hampir 1,5 juta jamaah sholat dan umroh di Masjidil Haram. Jumlah ini dihitung sejak awal bulan suci Ramadhan hingga hari ke-10.

Dilansir di Saudi Gazette, Senin (26/4), umat Muslim yang diizinkan masuk ke Masjidil Haram harus sudah sesuai dengan kontrol tindakan pencegahan.

Sejumlah aturan ditetapkan pihak berwenang, dengan tujuan memberikan kenyamanan bagi para pelaksana umroh  dan jamaah sholat, serta menerapkan tindakan protokol kesehatan dan jarak fisik.

Direktur Departemen Umum untuk manajemen keramaian di Masjidil Haram, Eng. Osama Al-Hujaili, membenarkan jika Kepresidenan telah memanfaatkan kemampuan operasionalnya untuk melayani umat Muslim selama bulan suci Ramadhan.

Hal ini mereka lakukan dengan mengalokasikan halaman mataf (lokasi tawaf) bagi para pelaku Umroh dan mengatur proses keluar masuknya. Tak hanya itu, mereka juga membuat jalur khusus untuk para lansia dan penyandang disabilitas.

Selanjutnya, dia mengimbau para pelaku umroh  untuk mematuhi waktu yang diberikan kepada mereka melalui aplikasi Eatmarna, memakai masker, serta mematuhi jaga jarak fisik. 

Sebelumnya, Pemerintah Arab Saudi telah merilis sejumlah syarat bagi jamaah yang ingin melakukan umroh  selama bulan suci Ramadhan. Salah satunya, hanya Muslim yang sudah divaksin Covid-19 yang boleh melakukan ibadah ini. 

Dalam pernyataan yang dikeluarkan Kementerian Haji dan Umroh , setidaknya ada tiga kategori seseorang sudah divaksin. Yakni sudah menerima dua dosis vaksin, sudah disuntik vaksin tunggal corona setidaknya 14 hari sebelumnya, serta telah pulih dari kondisi terinfeksi.   

 

Sumber: saudigazette

Pengalaman Umroh Yang Tak Biasa Saat Pandemi

0291422cdf05d763a9a69c30971dbf56

IHRAM.CO.ID, JAKARTA – Umroh selama pandemi memiliki tantangan sendiri. Selain membutuhkan dokumen tambahan, harganya pun lebih mahal. Salah seorang jamaah Indonesia menjelaskan pengalamannya ketika umroh saat pandemi.

“Umroh saat pandemi memang sangat berbeda. Karena kita menambah dokumen seperti hasil tes usap paling lambat 48 jam. Apabila negatif bisa berangkat. Tapi kalau positif, penerbangan dijadwalkan ulang dan baru bisa berangkat jika hasil tes usap sudah negatif,” kata Direktur Utama Jazirah Iman Travel, Alfiah Putri Iriyanto kepada Republika.co.id, Rabu (7/4).

Alfiah merupakan salah seorang dari tim delegasi umrah Kesatuan Tour Travel Haji Umroh Republik Indonesia (KESTHURI) yang berangkat pada 24 November 2020.

Sebenarnya para jamaah dapat memilih maskapai yang diinginkan. Akan tetapi, saat Alfiah berangkat, kebetulan yang tersedia hanya Saudi Airlines.

Namun, pihak maskapai saat itu tidak menerapkan jaga jarak. Para penumpang duduk layaknya kondisi normal saling berdekatan.

Saat para jamaah tiba di Jeddah, dokumen mereka diperiksa. Lalu mereka diarahkan ke hotel di Makkah untuk melakukan karantina selama tiga hari. Selama perjalanan, mereka naik bus yang telah diatur jarak tempat duduknya dan 48 jam setelah tiba, mereka dites usap.

“Apabila hasilnya negatif, kita boleh keluar melaksanakan ibadah. Tapi kalau hasilnya positif, kita terpaksa terpisah dari grup karena harus isolasi lagi selama sepuluh hari. Kalau setelah sepuluh hari hasil tesnya negatif, baru bisa ibadah,” ujar dia.

Dia menyebut pemerintah Saudi sangat ketat dalam menerapkan prosedur kesehatan. Para jamaah asing tidak bisa sembarang keluar masuk Masjidil Haram atau Masjid Nabawi. Mereka hanya bisa masuk setiap waktu shalat tiba.

Untuk memasuki kawasan masjid, mereka harus menggunakan aplikasi bernama I’tarmana. Sayangnya, aplikasi tersebut hanya bisa diakses oleh warga negara Saudi dan orang yang bermukim di Saudi.

“Kalau kita kan dari luar, kita ada yang mendaftarkan, dari orang yang menerbitkan visa, pihak muassasah. Kita umrohnya sudah diatur jadwalnya dan tidak boleh lewat karena dari id card yang menyediakan adalah kementerian haji dan umroh Arab Saudi,” jelas dia.

Alfiah mulai melaksanakan umroh bersama rombongannya yang terdiri dari 24 orang dan satu orang muassasah.

Ketika di pintu masjid, pihak muassasah akan memperlihatkan barcode kepada petugas. Ibadah Umroh hanya bisa dilakukan sekali. Setelah ritual tawaf dan sa’i, para jamah tidak bisa lagi memasuki wilayah tersebut.

Selain itu, keterbatasan lain yang dirasakan adalah terbatasnya air zam-zam. Para jamaah tidak bisa langsung mengambil dari dispenser, harus petugas yang melayani.

Bahkan, di Masjid Nabawi tidak ada penyediaan air zam-zam dan saat mereka pulang, mereka tidak membawa air zam-zam.

Tak hanya waktu umroh yang dibatasi, waktu di dalam raudhah Masjid Nabawi juga dibatasi hanya 30 menit. Alfiah menekankan para jamaah yang shalat di masjid harus membawa mukena dan sajadah karena area masjid tidak menyediakan peralatan ibadah.

Situasi di sekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi juga sangat sepi. “Sangat sedikit toko-toko yang buka. Hotel pun hanya bintang lima saja yang buka, bintang tiga tutup. Jadi, benar-benar sepi,” ucap dia.

Peraturan di hotel juga berbeda saat sebelum pandemi. Setiap kamar hanya bisa diisi oleh dua orang.

Para jamaah juga tidak bisa membeli makanan sembarang, pihak hotel menyiapkan makanan berupa nasi box yang diantar di setiap kamar tiga kali sehari.

Namun, terkadang, mereka harus menunggu lama karena makanan bisa datang telat. Sebab, karyawan hotel sangat terbatas yang bekerja.

“Kita juga harus pakai masker ke mana-mana, wajib. Kalau nggak pakai, kena denda 500 ribu riyal Saudi,” kata dia.

Lebih lanjut, proses pemulangan dari Saudi menuju tanah air kata dia sedikit lebih rumit. Karena saat itu pemerintah Indonesia belum menerapkan wajib karantina selama lima hari, Alfiah dan rombongan tidak dikarantina.

Selain itu, hasil tes usap yang dilakukan di Saudi saat karantina masih berlaku selama 14 hari.

“Saat tiba di Indonesia, di bandara, harus dicek beberapa dokumen. Turun dari pesawat kita antre pengecekan e-HAC lalu antre pemeriksaan validasi hasil tes usap. Karena masih berlaku, kita tidak usah tes lagi,” kata dia.

amun, pada akhir Desember, semua Warga Negara Indonesia (WNI) yang tiba dari luar negeri wajib melakukan karantina selama lima hari. Mereka bisa karantina di hotel sekitar bandara dengan gratis atau membayar per malam.

Sekretaris Jenderal KESTHURI, Artha Hanif mengatakan bagi para jamaah yang ingin melakukan umroh saat pandemi harus siap menerima semua risiko.

Sebab, segala hal bisa saja terjadi. Misal, dalam persiapan dokumen sebelum keberangkatan. Ada yang sudah siap dalam hal akomodasi tapi hasil tes usap positif atau hasil tes usap sudah ada tapi visa belum dapat.

“Selain keuangan dan kesehatan, mental juga harus dipersiapkan,” kata Artha.

Pada akhir Januari, jumlah peningkatan kasus Saudi bertambah sehingga pemerintah Saudi menerapkan kebijakan lebih ketat.

Artha menjelaskan ada beberapa kelompok yang tiba di Saudi setelah dites, sekitar 10-15 persen dari mereka positif. Oleh karena itu, pemerintah Saudi menyuruh semua penumpang yang bersamaan dengan jamaah positif agar ditambah masa karantina selama sepuluh hari meskipun mereka memiliki hasil tes usap negatif.

“Alhamdulillah kebijakan tersebut tidak berlanjut karena pada hari kelima orang itu sudah negatif dan bisa melaksanakan ibadah,” ujar dia.

Sumber : ihram.co.id

Adab Haji dan Umrah

Empty attachment or post type not equal ‘attachment’

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH — Melaksanakan ibadah haji ke Baitullah merupakan impian setiap Muslim. Namun, salah satu dari rukun Islam itu hanya diwajibkan bagi hamba Allah yang memiliki kemampuan saja. Allah SWT berfirman dalam surah Ali Imran ayat 97, ‘’Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah’’

‘’Sedangkan haji mabrur tidaklah dibalas kecuali dengan surga,’’ sabda Rasulullah SAW. (HR Bukhari-Muslim).  Agar predikat mabrur melekat pada setiap diri jamaah, maka setiap hamba Allah yang berhaji dan umrah perlu memperhatikan adab (tata cara) menunaikan salah satu rukun Islam itu. Sehingga, kesempurnaan ibadah haji bisa dicapai.

Lalu, apa saja adab-adab yang perlu diperhatikan setiap jamaah yang akan menunaikan ibadah haji?  Syekh Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada dalam kitab Mausuu’atul Aadaab Islamiyah menjelaskan sederet adab berhaji dan umrah yang sesuai dengan tuntunan Alquran dan hadis.

Pertama, mengikhlaskan niat hanya karena Allah SWT semata.

Menurut Syekh Sayyid Nada, seseorang tidaklah mendapatkan balasan dari amal yang dikerjakannya,  kecuali sesuai dengan yang diniatkan.  Allah sendiri telah mewajibkan haji semata-mata untuk meraih keridhaan-Nya. ‘’Maka dari itu, hendaknya niat seseorang menunaikan haji atau umrah semata-mata karena Allah dan menunaikan kewajiban yang diperintahkan Allah,’’ tutur ulama terkemuka itu.

Ia mengingatkan janganlah naik haji karena riya supaya dianggap hebat atau hanya ingin mendapatkan gelar haji saja. Menurut Syekh Sayyid Nada, melakukan amal karena manusia  termasuk perbuatan syirik. Allah SWT berfirman dalam surah Az-Zumar ayat 2, ‘’Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.’’

Kedua, bertobat kepada Allah  dengan toba nashuha.

Syekh Sayyid Nada mengungkapkan, seseorang yang hendak melaksanakan ibadah haji atau umrah wajib bertobat kepada Allah dari segala dosa yang pernah dikerjakan sebelum berangkat melaksanakan ibadah tersebut.  Taubat sangat ditekankan bagi setiap Muslim.

Allah SWT berfirman dalam surah At-Tahrim ayat 8, ‘’Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya’’ Bertobah nashuha lebih ditekankan lagi kepada para calon jamaah haji, karena mereka tidak tahu apakah mereka akan kembali atau tidak. Bisa jadi, mereka menghembuskan nafas terakhirnya di Tanah Suci.

 Keempat, menjaga adab-adab safar berkaitan dengan haji dan umrah.

Syekh Sayyid Nada mengungkapkan, di antara adab safar dalam haji dan umrah adalah melakukan shalat istikharah untuk memilih waktu keberangkatan, sarana transportasi, kawan seperjalanan, dan waktu keberangkatan. ‘’Selain itu calon jamaah haji juga harus melunasi utangnya sebelum berangkat, atau meminta izin kepada orang yang dia utanginya,’’ paparnya.

Selain itu, calon jamaah juga diharuskan meminta izin kepada orangtua, menulis wasiat, menunjuk orang yang terpercaya untuk menjaga keluarganya, dan meninggalkan nafkah yang cukup bagi mereka, membawa bekal yang cukup dari nafkah halal, dan memilih teman seperjalanan yang saleh, serta berpamitan kepada sanak keluarga. Sebaiknya calon jamaah haji banyak berdoa dan berzikir dalam perjalanan.

 Kelima, mempelajari hukum-hukum yang berkaitan dengan haji dan umrah

 Menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap Muslim, supaya amal yang dilakukannya benar-benar sesuai dengan syari’at. Menurut Syekh Sayyid Nada,  ilmu adalah imam bagi amal, dan  amal tanpa didasari ilmu sering kali menjadi menyesatkan.

‘’Kadang-kadang orang yang berhaji atau umrah terjatuh ke dalam perbuatan yang dapat membatalkan amalnya atau mengurangi pahalanya.  Oleh karena itu, seorang calon jamaah haji atau yang akan mengerjakan umrah wajib mempelajari berbagai hal yang berkaitan dengan keduanya baik  dari buku, kaset, maupun vcd,’’ tuturnya.

Keenam, membawa bekal yang cukup dari nafkah yang halal.

Seseorang yang hendak naik haji atau umrah membutuhkan bekal yang banyak, baik nafkah selama perjalanan maupun ketika manasik.  Oleh karena itu dia harus menjaga nafkahnya tersebut agar cukup selama perjalanan dan berhaji agar dia tidak kekurangan dan terpaksa meminta kepada orang lain.

‘’Selain itu, Nafkah yang dibawa naik haji harus berasal dari harta yang halal. Sebab jika seseorang menunaikan ibadah haji dengan harta yang haram, misal hasil merampok, mencuri, korupsi, maka sejumlah ahli berpendapat bahwa hajinya batal atau hajinya sah tetapi dia mendapatkan dosa besar,’’ ujar Syekh Sayyid Nada.

Ketujuh, memperbanyak sedekah.

Syekh Sayyid Nada mengungkapkan, sedekah merupakan amal yang sangat dicintai Allah, mendatangkan keridhaan-Nya dan mencegah kemarahan-Nya. Selama mengerjakan haji dan umrah, seseorang akan banyak menjumpai peminta-minta dan orang yang membutuhkan bantuan. Maka dari itu, selayaknya jamaah haji memperbanyak sedekah sesuai dengan kemampuannya untuk mendapat pahala.

Kedelapan, banyak memberikan nafkah kepada teman seperjalanan.

‘’Di dalam memberikan nafkah kepada teman seperjalanan terdapat pahala yang besar dari Allah. Di samping itu akan menciptakan perasaan gembira dan kasih sayang di antara mereka. Maka seharusnya dia meniatkannya untuk mendekatkan   diri kepada Allah, bukan untuk pamer,’’ papar Syekh Sayyid Nada.

Bertakwa kepada Allah berarti mentaati apa yang Dia perintahkan dan menjauhi apa yang Dia larang dalam segala urusan dan pada setiap waktu. Hendaknya jamah haji selalu muraqabah (merasa diawasi oleh Allah) serta menjauhi segala perkara yang mendatangkan kemurkaan Allah. Dalam hatinya seharusnya juga selalu mengaharapkan rahmat-Nya dan takut kepada kemurkaan-Nya.

 

Sumber : Ensiklopedi Abad Islam Menurut Alquran dan As-Sunnah terbitan Pustaka Imam As-Syafi’i

Keutamaan Puasa di Bulan Syaban

tadarus-saat-berpuasa_200828163706-763

IHRAM.CO.ID, JAKARTA — Bulan Syaban adalah bulan kedelapan dalam penanggalan Hijriyah yang dinantikan umat Islam. Pada tahun 2021 ini awal bulan Sya’ban bertepatan pada Senin (15/3). Salah satu keistimewaan bulan ini terletak pada pertengahannya yang biasanya disebut sebagai Nisfu Sya’ban.

Selain itu, ada sejumlah hadis shahih yang menunjukkan keistimewaan di bulan Sya’ban, di antaranya hadits tentang amalan puasa sunnah. Hadis-hadis ini merupakan dalil keutamaan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban.

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan,

يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

“Terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa beberapa hari sampai kami katakan, ‘Beliau tidak pernah tidak puasa, dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan: Beliau tidak melakukan puasa. Dan saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Aisyah juga mengatakan,

لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Belum pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Aisyah mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَفَّظُ مِنْ هِلَالِ شَعْبَانَ مَا لَا يَتَحَفَّظُ مِنْ غَيْرِهِ، ثُمَّ يَصُومُ لِرُؤْيَةِ رَمَضَانَ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْهِ، عَدَّ ثَلَاثِينَ يَوْمًا، ثُمَّ صَامَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian terhadap hilal bulan Sya’ban, tidak sebagaimana perhatian beliau terhadap bulan-bulan yang lain. Kemudian beliau berpuasa ketika melihat hilal Ramadhan. Jika hilal tidak kelihatan, beliau genapkan Sya’ban sampai 30 hari.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An Nasa’i dan sanad-nya disahihkan Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

Ummu Salamah Ra. mengatakan,

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنَ السَّنَةِ شَهْرًا تَامًّا إِلَّا شَعْبَانَ، وَيَصِلُ بِهِ رَمَضَانَ

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam belum pernah puasa satu bulan penuh selain Sya’ban, kemudian beliau sambung dengan Ramadhan.” (HR. An Nasa’i dan disahihkan Al Albani).

 

Sumber : Ihram.co.id

Arab Saudi Kembali Tutup Umrah

1724584

JEDDAH  (ManasikNews) — Kerajaan Arab Saudi terhitung mulai hari Rabu (03/02/2021) pukul 9 malam waktu setempat, melarang kedatangan warga negara asing dari 20 negara, termasuk Indonesia, dimaksudkan untuk mengekang penyebaran baru virus corona.

Dengan demikian, sejak saat itu terlarang pula untuk sementara waktu kedatangan jamaah luar negeri dari negara muslim untuk melaksanakan ibadah umrahh.

Pengecualian larangan, yaitu bagi para diplomat dan staf medis internasional, berikut keluarga mereka.

Ke-20 negara itu, adalah Uni Emirat Arab (UEA), Mesir, Lebanon, Turki, Amerika Seserta (AS), Inggris, Jerman, Prancis, Italia, Irlandia, Portugal, Swiss, Swedia, Brasil, Argentina, Afrika Selatan, India, Indonesia, Pakistan, dan Jepang

Larangan Saudi tersebut, menurut laporan SPA yang dikutip ArabNews, Rabu (03/02/2021), juga berlaku untuk pelancong  dari 20 negara yang akan transit dalam tempo 14 hari sebelum memasuki Arab Saudi.

Banyak penumpang internasional telah menggunakan Dubai UAE sebagai pusat transit dari negara-negara yang tidak memiliki penerbangan langsung ke Arab Saudi, opsi ini sekarang tidak berlaku lagi.

Tindakan baru Arab Saudi ini dilakukan di tengah lonjakan global kasus Covid-19 varian baru, yang pertama kali terdeteksi di Inggris, Afrika Selatan, dan Brasil. Selain itu, otoritas Saudi didera kekhawatiran, bahwa vaksin yang diluncurkan di seluruh dunia mungkin kurang efektif “menjinakkan” virus.

Inggris memulai pengujian langsung dari pintu ke pintu bagi 80.000 orang pada hari Selasa, dalam upaya untuk membendung penyebaran virus varian Afrika Selatan yang sangat menular, dan telah terjadi peningkatan penyebaran varian di Swedia.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Saudi memperingatkan mengenai opsi tindakan yang lebih ketat diperlukan untuk mengekang penyebaran virus,  termasuk jika masyarakat terus “membandel” tidak mematuhi aturan jarak sosial dan larangan pertemuan besar.

Terbaru, Arab Saudi melaporkan adanya 310 kasus baru Covid-19, naik hampir empat kali lipat dari jumlah sebulan sebelumnya.

Seperti diketahui, Arab Saudi menangguhkan untuk kali pertama penerbangan ke dan dari negara monarki ini pada 14 Maret 2020, dua minggu setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa wabah virus corona telah menjadi pandemi.

Namun, Arab Saudi mulai 3 Januari 2021 kembali membuka wilayah perbatasan udara, darat, dan laut dengan negara-negara tetangga. Ternyata kebijakan ini hanya berlaku untuk sesaat saja. (wyn)

 

Sumber : manasiknews.id

Larangan Masuk Arab Saudi Sudah Diprediksi Pengusaha Travel

Empty attachment or post type not equal ‘attachment’

IHRAM.CO.ID, JAKARTA— Beberapa pengusaha bidah umroh  dan haji khusus telah memprediksi bahwa akan ada kebijakan baru dari Pemerintah Arab Saudi menyangkut perjalanan umroh.

Ternyata prediksi ini benar Arab Saudi telah membuat keputusan temporary suspend kepada 20 warga negara termasuk Indonesia.

“Kita menjadi negara satu-satunya di asia tenggara yang terkena dampak suspend ini,” kata Pemilik travel Riau Wisata Hati, Muhammad Dawood,saat dihubungi, Rabu (3/1).

Muhammad Dawood mengatakan, selama ini seluruh pelaku usaha di dunia tavelling khususnya penyelenggara perjalanan ibadah umroh  (PPIU) dan penyelenggara ibadah haji khusus (PIHK) khawatir akan ada penutupan umroh. Dan saat ini kekwatirkan itu menjadi kenyataan, PPIU harus menunda berangkatkan umroh  lagi.

“Kami selaku PPIU sudah 11 bulan tidak bisa beraktifitas dan kami mulai kembali mengaktifkan kembali kantor saat beberapa hari yang lalu pemerintah saudi melonggarkan pembatasan usia bagi calon jamaah umroh ,” katanya.

Muhammad mengatakan, Pemerintah Arab Saudi bukan tanpa alasan mengapa memasukan negara Indonesia dalam daftar temporary suspend. Tentunya keputusan ini diambil setelah melihat penyebaran corona di Indonesia cukup tinggi dibandingkan negara asia tenggara lainnya. 

“Sebenarnya sejak beberapa hari belakangan ini kami sudah mendengar isu-isu bahwa Indonesia akan disuspend oleh Pemerintah Arab Saudi,” katanya.

Menurut Muhammmad, prediksi Indonesia akan masuk daftar suspend ini telah disampaikan melalui diskusi yang mengundang pemerintah dan pihak-pihak terkait. Namun, pihak pemerintah kurang menanggapi dengan tidak hadirnya dalam sebuah diskusi. 

“Sudah kami lakukan undangan kepada pemerintah terkait (Sekjen Kemenkes , Dirjen PHU & Kepala BNPB ) yang dilaksanakan pada 31 Januari 2021 lalu di Jakarta. Tetapi yang hadir pada saat itu hanya Perwakilan dari pihak BNPB,” katanya. 

Pada kesempatan tersebut, kata Muhammad Dawood, pihaknya telah menyampaikan dan berdiskusi mengenai hal ini kepada pihak BNPB. Bahwa usaha PPIU ini sudah berhenti total beroperasi lebih dari 11 bulan dan mirisnya lagi adalah jika kesempatan untuk bisa melaksanakan ibadah haji tahun ini mendapatkan perlakuan suspend untuk Indonesia. 

“Kami selaku PPIU memohon kepada Bapak Presiden untuk mengambil langkah-langkah yang lebih tegas lagi dalam hal penekanan perkembangan virus corona,” katanya. 

Menurutnya, banyak hal yang ingin disampaikan pengusaha travel kepada presiden terkait berhentinya oprasi di bidang usaha haji dan umroh  ini. Meski demikian pengusaha travel akan terus berusaha mencari solusi menyampaikan aspirasi kepada presiden dengan mengajak lembaga-lembaga pemerintahnya berdiskusi. 

“Untuk menyampaikan sikap sebagai pelaku usaha tour and travel akan berusaha kembali mencoba mengundang pemerintah setingkat menteri untuk bisa kami menyampaikan segala keluh kesah kami selama 11 bulan belakangan ini,” katanya. 

Pada kondisi ini, kata Muhammad, pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan yang tepat dan terukur. Sehingga kebijakan yang diberlakukan pemerintah itu dapat menanggulangi pandemi Covid-19.

“Harapan kami hanyalah ada keputusan yang arif dan bijaksana dari pemerintah soal vaksin, karantina wilayah dan menekan pergerakan warga negara indonesia,” katanya.

 

Sumber : IHRAM.CO.ID

Forum SATHU: Perlu Ada Perbaikan Menyeluruh Sistem Haji

Empty attachment or post type not equal ‘attachment’

IHRAM.CO.ID,JAKARTA — Forum Silaturahmi Asosiasi Travel Haji dan Umroh (Forum SATHU) meminta pemerintah segera membedah sistem perhajian terutama terkait daftar tunggu agar tak merugikan jamaah yang berangkat belakangan. Permintaan itu menyusul pernyataan Wakil Presiden Ma’ruf Amin yang mengatakan subsidi yang diberikan kapada jamaah haji reguler terlalu besar. 

Ketua Harian Forum Satu Baluki Ahmad mengatakan, permintaan Wapres Maruf Amin kepada Menteri Agama agar menghitung ulang subsidi yang diberikan kepada jamaah haji akan merugikan jamaah yang berangkat belakangan. Padahal uang mereka telah terpakai oleh jamaah yang berangkat pada tahun berjalan.

“Inilah satu hal yang harus dipahami oleh pemerintah, jangan sampai pemerintah mengatakan tidak akan memberikan subsidi kepada jamaah,” katanya kepada wartawan, Jumat (8/1).

Karena memang pemerintah sebenarnya tidak pernah memberikan subsidi itu sesungguhnya. Selama ini subsidi yang digunakan pemerintah merupakan uang jamaah lain yang belum diberangkatkan. 

Baluki mengatakan, sistem pendaftaran haji selama ini  bermasalah, namun pemerintah tak memperbaikinya. Di mana sistem haji reguler sekarang konsepnya sistem ponzi, jadi jamaah setor uang muka baru berangkat 25 atau 30 tahun lagi dan sistem ini pernah digunakan First Travel.

“Sistem ini sesuatu hal aturan yang sesungguhnya tidak menjadikan keadilan, tetapi itu terus berjalan,” katanya.

Baluki mengatakan, tidak ada masalah jika pemerintah ingin mengembalikan sistem pendaftaran seperti semula, di mana jamaah membayar haji sesuai dengan harga yang sesungguhnya. Akan tetapi uang jamaah yang sudah terkumpul harus dibagikan kepada jamaah yang belum berangkat.

“Kalau pemerintah mengatakan bahwa akan dikembalikan jamaah sesuai penyetorannya dengan kemampuannya fine-fine saja. Akan tapi kemana uangnya tersimpan,” katanya.

Baluki memastikan, bahwa selama ini pemerintah tidak pernah memberikan subsidi kepada jamaah haji. Negara memang mengeluarkan APBN untuk penyelenggaraan haji, akan tetapi itu semua untuk biaya petugas di Kemenag dan Kemenkes.

“Jamaahnya sendiri tidak mendapatkan, kalaupun jamaah membayar 34 kost haji sampai 73 sekian itu 30 sekiranya duit jamaah hasil optimalisasi hasil pengelolaan dana oleh BPKH sekarang ini yang sebelumnya dikelola oleh Kementerian Agama,” katanya.

Untuk itu kata dia perlu ada perbaikan secara menyeluruh dalam sistem perhajian. Terutama terkait sistem pendaftaran dengan skema fonzi yang dapat merugikan jamaah yang berangkat belakangan.

“Sistem tidak akan menjadikan suatu hal yang baik, kalau sekala fonzi itu tidak segera dibendung, tidak disikapi oleh pemerintah maka yang dirugikan jamaah,” katanya.

 

Sumber : Ihram.co.id

Wapres Minta Kepastian Haji Tahun Ini Ada atau Tidak?

wakil-presiden-ri-kh-maruf_210104002400-829

IHRAM.CO.ID,JAKARTA — Wakil Presiden Ma’ruf Amin meminta Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas untuk secara aktif melobi Pemerintah Arab Saudi terkait kepastian kuota haji 2021 untuk jemaah asal Indonesia.

“Wapres minta agar Menag secara proaktif melakukan lobi ke Arab Saudi, supaya ada kepastian, biar masyarakat yang berniat haji tahun ini ada kepastian,” kata Juru Bicara Wapres Masduki Baidlowi ketika dihubungi dari Jakarta, Rabu (6/1).

Wapres Ma’ruf berharap Pemerintah Indonesia mendapatkan kepastian apakah penyelenggaraan ibadah haji tetap diselenggarakan meski pandemi COVID-19 masih melanda.

“Jadi Wapres minta agar segera dipastikan apakah penyelenggaraan haji tahun ini ada atau tidak,” tambah Masduki.

Sebelumnya Pemerintah Arab Saudi sempat meniadakan penyelenggaraan haji sebagai salah satu kebijakan dalam menangani pandemi COVID-19 di negara tersebut.

Pada pertengahan 2020, Pemerintah Arab Saudi membuka kembali penyelenggaraan ibadah haji namun dilakukan secara terbatas dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat bagi jemaah.

Pada 2019, Pemerintah Indonesia mendapat kebijakan khusus dari Raja Salman untuk menambah kuota haji sebanyak 20.000 slot, sehingga penyelenggaraan haji pada 2020 seharusnya dapat diberikan kepada 231.000 calon haji.

Namun, Pemerintah Indonesia memutuskan untuk tidak mengirimkan jemaah haji ke Arab Saudi pada 2020, karena angka kasus COVID-19 di Indonesia terus meningkat. Keputusan tersebut dituangkan dalam SK Menteri Agama Nomor 494 Tahun 2020 yang ditandatangani oleh Fachrul Razi.

Di 2021, Kemenag menyiapkan tiga skenario untuk pengiriman jemaah haji asal Indonesia ke Arab Saudi; yakni memberangkatkan sesuai kuota normal, mengirimkan jemaah 50 persen dari kuota normal dan tidak memberangkatkan haji seperti di 2020.

Kuota dasar jemaah haji dari Indonesia hingga saat ini berada di angka 211.000 slot, yang terbagi atas 194.000 kuota reguler dan 17.000 kuota khusus. Jumlah kuota dasar tersebut ditetapkan berdasarkan kesepakatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) tahun 1987 di Amman, Yordania.

 

Sumber : Ihram.co.id

Sampai di Arab Saudi, Muslim Indonesia Lanjutkan Umroh

Empty attachment or post type not equal ‘attachment’

IHRAM.CO.ID, JEDDAH — Jamaah umroh asal Indonesia tiba di Bandara Internasional King Abdulaziz, Sabtu (9/10). Mereka merupakan gelombang pertama yang melanjutkan umrah, sejak Saudi mencabut larangan penerbangan internasional dua pekan kemarin.

Dilansir di Saudi Gazette, para peziarah meninggalkan bandara dan segera menuju Makkah. Di kota ini, mereka akan menghabiskan tiga hari melaksanakan di karantina wajib, di akomodasi yang telah dipesan, sebelum menunaikan umrah.

Kebijakan karantina ini sejalan dengan tindakan pencegahan dan protokol kesehatan menghadapi virus Covid-19. Aturan tersebut ditetapkan oleh otoritas yang berwenang, sembari mengizinkan jamaah asing menunaikan ibadah umrah.

Jamaah umrah asing diperbolehkan memasuki Saudi dan menjalankan ibadah umrah, bersamaan dengan tahap ketiga dimulainya kembali layanan Umrah secara bertahap dan kunjungan ke Dua Masjid Suci, mulai 1 November.

Kementerian Haji dan Umrah sangat ingin menerapkan model Umrah yang aman bagi mereka yang datang untuk melakukan ritual Umrah. Sebagai bentuk usaha, Saudi meningkatkan kesiapan semua perusahaan penyedia layanan Umrah, untuk memfasilitasi perjalanan para jamaah selama mereka tinggal di Kerajaan.

Hal itu merupakan bentuk implementasi arahan Pemerintah Saudi yang dipimpin oleh Penjaga Dua Masjid Suci, Raja Salman, dan tindak lanjut Menteri Haji dan Umrah, Muhammad Benten.

Selama pelaksanaan ibadah, Kementerian Haji dan Umrah Saudi meminta para peziarah secara ketat mematuhi tindakan pencegahan dan protokol kesehatan, sejak kedatangan mereka hingga kepulangan mereka. 

Sumber : ihram.co.id